navigate_beforeDetil Spesifik

INFERTILITAS PRIA : DEFINISI, PENYEBAB, DIAGNOSIS DAN TATA LAKSANA

No image available for this title

Ketersediaan

Kode EksemplarNo. PanggilTipe KoleksiLokasiStatus Eksemplar
A012019A012019Artikel JurnalPerpustakaan FKUITersedia
Definisi

Sekitar 6% pasangan suami istri di seluruh dunia infertilitas dan mendatangi pusat pelayanan infertilitas. (Chandra A dkk, 2013; Chandra A dkk, 2014; Bushnik T dkk, 2012; Oakley L dkk, 2008) Infertilitas didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai sumber, baik oleh konsensus di berbagai benua, ataupun oleh organisasi kesehatan dunia. Istilah sterilitas dan infertilitas terkadang digunakan secara bergantian, atau pada populasi yang berbeda. Di Spanyol, definisi sterilitas adalah kesulitan untuk mencapai kehamilan, sedangkan istilah infertilitas digunakan ketika kehamilan berkembang tetapi terganggu. Sebaliknya di Inggris, istilah infertilitas mengacu pada pasangan yang gagal mencapai kehamilan, baik secara alami yang selanjutnya disebut sebagai sterilitas, maupun secara alami dan tidak alami (melalui reproduksi berbantu) yang selanjutnya disebut sebagai subfertilitas, ataupun jika kehamilan berkembang tetapi tidak menghasilkan bayi yang lahir hidup. (Olmedo, 2000)

Secara garis besar, infertilitas merupakan suatu keadaan pasangan suami istri yang tidak mampu memiliki anak yang lahir hidup, setelah melakukan hubungan seksual secara teratur selama dua belas bulan dengan tanpa menggunakan alat kontrasepsi apapun. (WHO, 2000; Wein et al, 2012; Zegers et al, 2009) Dengan kata lain, terdapat tiga faktor yang menentukan diagnosis infertilitas, yaitu 1) hubungan seksual yang teratur, 2) periode dua belas bulan dan 3) tidak pernah menggunakan kontrasepsi.

Hubungan seksual dikatakan teratur bila pasangan suami istri tersebut melakukannya secara rutin, dalam frekuensi tiga hingga empat kali per minggu. Jadi bila pasangan tersebut melakukan hubungan suami istri terlalu sering, contoh setiap hari atau beberapa kali sehari, maka dapat dikatakan hubungan seksualnya tidak teratur. Demikian pula bila pasangan tersebut terlalu jarang melakukan hubungan suami istri, contoh satu kali per bulan, maka hubungan seksualnya termasuk yang tidak teratur. Penelitian juga menunjukkan bahwa pasangan infertil cenderung jarang melakukan hubungan seksual. (Malini dkk, 2017)

Untuk periode infertilitas, masih diperdebatkan apakah diagnosis infertilitas ditegakkan dalam 12 bulan atau 24 bulan. Organisasi kesehatan dunia (WHO) dan ESHRE merekomendasikan waktu 24 bulan. (WHO 1992 dan ESHRE 1996) Akan tetapi, para peneliti praktis kedokteran membuktikan bahwa pasangan mengalami infertilitas setelah 12 bulan melakukan percobaan kehamilan. (Olmedo, 2000) Selain itu, sumber lain juga menyatakan bahwa periode diagnosis infertilitas ditegakkan tergantung usia pasangan istri dikarenakan pengaruh usia terhadap kualitas oosi, apakah kurang atau lebih dari 35 tahun. Bila usia istri kurang dari 35 tahun, maka diagnosis infertilitas ditegakkan dalam periode dua belas bulan. Namun bila usia istri lebih dari 35 tahun, maka periode infertilitas lebih dini ditegakkan, yakni dalam periode enam bulan. (Practice committee of american society for reproductive medicine, 2012; National Collaborating Centre for woman’s and children’s health, 2013 )

Untuk kontrasepsi, batasannya ditegakkan bila pasangan suami istri tersebut tidak pernah menggunakan kontrasepsi apapun, baik dari sisi laki-laki (kondom, vasektomi) ataupun perempuan (pil/suntik/susuk KB, alat kontrasepsi dalam rahim/AKDR, tubektomi). Jadi bila pasangan tersebut pernah menggunakan kontrasepsi jenis apapun, maka diagnosis infertilitas perlu dipertimbangkan lagi. Telah dibuktikan pula bahwa kontrasepsi hormonal dan AKDR dapat mempengaruhi fertilitas dan dipertimbangkan sebagai penyebab infertilitas, khususnya pada infertilitas sekunder. (Abd El-Latief dkk, 2013)

Definisi infertilitas secara klinik ini disusun sedemikian rupa agar dapat didiagnosis dan ditentukan tata laksana nya sejak awal. (Mascarenhas et al, 2012)


Berdasarkan riwayat kehamilan, maka Infertilitas dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu : (Malini SS et al, 2017) :
1. Infertilitas primer :
Bila pasangan suami tidak pernah sekalipun menghamili istri, setelah setahun berhubungan seksual secara teratur, tanpa riwayat kontrasepsi sebelumnya.
2. Infertilitas sekunder :
Bila pasangan suami pernah menghamili istri sedikitnya sekali, namun kemudian ia tidak mampu menghamili kembali.

Infertilitas dapat disebabkan oleh faktor laki-laki, faktor perempuan, kombinasi atau tidak terjelaskan. (Gutmacher AF, 1956; Practice committee of american society for reproductive medicine, 2012; Thonneau P dkk, 1991; National Collaborating Centre for woman’s and children’s health, 2013; Lindsay and Vitrikas, 2014)

Informasi Detil

Judul Seri

-

No. Panggil

A012019

Penerbit

: .,

Deskripsi Fisik

-

Bahasa

Indonesia

ISBN/ISSN

-

Klasifikasi

NONE

 
Tipe Isi

-

Tipe Media

-

Tipe Pembawa

-

Edisi

-

Info Detil Spesifik

Artikel dr. Silvia Werdhy Lestari

Pernyataan Tanggungjawab
Tidak tersedia versi lain
Komentar

search

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subyek



Advanced Search

Masukan judul koleksi

  • SEARCHING...

Masukan pengarang koleksi

  • SEARCHING...

Masukan subjek koleksi

Masukan ISBN/ISSN koleksi